Tuesday, 7 May 2013

Harga Foto itu tidak murah mas bro!!!

Pensiun adalah salah satu faktor mengapa foto anda harus mahal.
Kemarin saya membaca salah postingan di Group FB Matanesia yang membuat saya terpacu untuk menuliskan artikel ini. Berikut postingannya "Lagi sedih nih... ketika harga sebuah foto tidak boleh sebanding dengan harga sebuah lukisan. Alasannya : kan cuma foto,kalo lukisan logis mahal... Beneran sedih....apa segitunya kah harga sebuah foto hanya karena dianggap sesuatu yang mudah tinggal jepret ?? Apakah foto bukan karya seni ?? Hhhhh...seeeddiiiihhhhhh
Postingan ini sangat menarik dan sangat layak untuk dibahas panjang kali lebar, tentunya dari sisi positif. Ngomong-ngomong soal harga, saya teringat akan pelajaran sekolah yang saya terima di sini. Ada banyak faktor sebelum sang fotografer menentukan sebuah harga.

Industri di sydney bisa saya katakan sangat menghargai sebuah foto. Saya diajarkan untuk selalu memikirkan masa depan, tentunya masa depan dengan karir sebagai seorang fotografer. Salah satu titik paling penting dari masa depan adalah PENSIUN. Nahh biaya hidup untuk menuju pensiun yang layak itu harus diperjuangkan sejak usia muda. Saya disini diajarkan untuk membuat "quote"/ "estimate" atau rincian anggaran sebelum memulai sebuah projek. Estimasi nilai sebuah projek kecil ataupun besar harus disesuaikan dengan kondisi keuangan diri anda masing-masing, tergantung seberapa besar biaya yang anda butuhkan untuk pensiun nanti.

Sebelum membahas pensiun lebih lanjut, mari kita uraikan proses dibalik terciptanya sebuah foto. Proses dimana klien tidak pernah tahu, dan tidak mau tahu. Oleh karena itu, ada baiknya anda mendidik klien untuk tahu mengapa harga foto anda bisa mahal. Mari kita uraikan satu per satu:
  1. Berapa investasi waktu yang anda habiskan untuk belajar fotografi? selamanya, karena hidup ini adalah untuk belajar hal baru.
  2. Berapa nilai investasi untuk peralatan fotografi? setara dengan biaya makan dalam setahun.
  3. Berapa nilai sebuah ide anda yang tertuang dalam fotografi anda? tak ternilai, lain halnya jika asal njeret.
  4. Berapa puluh pertimbangan sebelum anda memutuskan untuk menekan shutter anda? tak terhitung, butuh kerjasama yang bagus antara mata, otak dan otot.
  5. Berapa waktu yang anda butuhkan untuk networking? selamanya sebelum saya pensiun.
  6. Berapa kali anda bertengkar dengan pasangan anda? saya jarang, karena sama-sama suka foto.
  7. Berapa nilai emosi yang anda keluarkan jika terjadi kesalahan saat motret? tak terhingga, namun saya tetap berusaha tersenyum.
  8. Berapa nilai perjuangan anda untuk menghasilkan sebuah foto? tak ternilai, karena itu karya seni visual.
Klien tidak mau tahu karena tidak mempunyai pengetahuan dibalik sebuah foto, yang mereka tahu hanyalah Jepret dan Jadi. Mendidik klien itu rasanya setengah mati, butuh pengorbanan besar. Jika bicara soal harga, pasti ada nilai-nilai yang harus kita kedepankan bukan? Nahh nilai apakah yang bisa anda andalkan untuk membuat harga foto anda bisa mahal. Adalah USP atau Unique Selling Point yang harus anda punya mulai dari sekarang. Unik dan berani tampil beda adalah satu hal wajib dilakukan ditengah menjamurnya profesi "fotografer". Setelah anda mempunyai USP, tentukan Target Market anda.

Rhine II oleh Andrea Gursky, menjadi foto paling mahal sedunia. Sumber Foto.
Jika anda ingin contoh yang gila, marilah mencontoh Andrea Gursky. Pasti tahu donk dengan nama Andrea Gursky, seorang fotografer Jerman yang menjual satu foto dengan harga 4,2juta dollar, foto termahal didunia. Pertanyaannya adalah mengapa Andrea Gursky bisa demikian? Mari kita lihat latar belakang Andrea Gursky. Dia awalnya selalu melihat lukisan dengan ukuran segede gaban dan di bingkai sedemikian keren. Sebagai seorang artis/seniman, dia juga tergugah untuk melakukan hal yang sama dengan seorang pelukis. Jika pelukis bisa membuat lukisan sedemikian gede dan mahal harganya, mengapa fotografer tidak? Nah dari situlah Andrea Gursky menggila dengan foto-foto yang di cetak segede gaban, ya selukisan gitu. Style foto Andrea Gursky bisa dikatakan iconic, dia suka motret sesuatu yang bersifat masif. Jika penasaran, Google Image aja nama Andrea Gursky, dan anda akan tahu betapa obsesifnya karya dari Andrea Gursky.

Balik ke PENSIUN
Untuk menuju sebuah pensiun yang nyaman, pastikan dulu berapa usia pensiun anda, berapa masa kerja aktif anda dan berapa kebutuhan per tahun anda. Jika anda berprofesi sebagai fotografer, harus ada tabungan per tahun yang harus anda siapkan menuju pensiun. Rumus keuangannya adalah Kebutuhan pertahun di kali 10 lalu dibagi masa aktif kerja (usia pensiun - usia sekarang). Semisal:

Kebutuhan pertahun: Rp. 34.000.000
usia pensiun: 60
usia sekarang: 26
Tabungan per tahun :(34juta x 10) / (60-26) = Rp. 10.000.000

Jika anda tahu bahwa dalam satu tahun harus mempunyai tabungan senilai 10juta, lalu apakah anda masih akan memasang harga yang bisa dikatakan di bawah rata-rata? Jika anda tahu bahwa anda hanya tergantung pada profesi fotografer, apakah anda akan memasang harga dibawah rata-rata? Pemikiran Andrea Gursky yang gila tadi dijamin langsung bisa menutup biaya pensiunnya sebagai fotografer fine art. Harga sangat tergantung dari diri anda sendiri bagaimana menyikapi persaingan maut di dunia fotografi ini. Yang jelas inovasi dalam fotografi itu selalu ada kok, percaya dan optimislah, karena jika di kemas secara elegan, Harga Foto itu tidak murah kok mas bro!!! 

Tetap Semangat, tetap merapat
Selamat berinovasi dalam fotografi

2w_^

5 comments:

roedyndoets said...

sip mas... setuju sama tulisan ini...

roedyndoets said...

sip mas bro,,, sangat setuju dengan tulisan ini...

PEKSI CAHYO IMAGES said...

ijin share ya masbro...paradigma berpikir yg hrs mjd acuan bagi fotografer beneran yg sdh memutuskan berani hidup di fotografi

Radityo Widiatmojo said...

Terima kasih mas Roedy...
monggo di share mas Peksi Cahyo.. senang bisa berbagi informasi..

GAME WORLD said...

Terima kasih.. menggugah sekali. Ini adalah pertarungan antara ego, persaingan, kebutuhan dan etika