Monday, 20 May 2013

Street Photography: antara Gila, Rasa, Cipta dan Citra

"Walking down the Street, and distance memories are buried in the past forever... I follow the Moskva and down to Gorky Park listening to the wind of change..." Sepenggal lirik dari grup band legendaris Scorpions yang menginspirasi saya melakukan menulis artikel ini. Bagi saya berjalan di jalanan dan melakukan akfitifas memotret merupakan bagian dari proses saya mendokumentasikan sejarah sebuah kota dimana saya berpijak.


Mungkin dirasa gila saat teman-teman saya mengetahui bahwa saya sering berjalan kaki 5-10 km sehari untuk melakukan street photography. Bagi saya memang terasa gila, berusaha berjalan tanpa arah dan tujuan hanya untuk mendapatkan sebuah foto street. Bagi sesama pejalan kaki, gelagat saya dirasa aneh karena saya sering berlama-lama di satu titik hanya untuk menunggu sebuah momen terbaik untuk diabadikan. Bagi fotografer komersil, mungkin aktifitas saya menghasilkan visual-visual di jalanan ini tidak akan menghasilkan banyak pemasukan untuk kantong saya. 

Saya selalu salut dan menaruh rasa hormat yang tinggi kepada orang-orang yang memiliki ide-ide gila yang tertuang dalam fotografi. Seperti yang saya tulis di postingan saya sebelumnya yang berjudul "Harga Foto itu Tidak Murah mas Bro", saya menuturkan ide gila Andrea Gursky. Dalam street photography, saya sangat salut kepada mas Boljug, fotografer street asal Malang yang mempunyai passion yang kuat untuk mendokumentasikan orang-orang schizophrenia di jalanan. Sampai-sampai dia sendiri harus menjadi orang schizophrenia untuk bisa berinteraksi dengan mereka. 

Beda manusia beda pula pemikirannya. Apa yang saya rasa di jalanan adalah sebuah kompleksitas hidup yang terurai dalam berbagai ekspresi, bahasa tubuh, tingkah laku, gaya hidup serta pandangan hidup di kota multi kultural ini. Sebuah rasa yang saya tuangkan dalam sajian visual terkadang membawa saya jauh memikirkan apa yang akan terjadi kelak dengan saya, serta membuat saya berempati subjek yang ada di foto saya. Salah satu yang menjadikan saya bisa berempati dengan orang-orang di jalanan adalah rasa kesendirian saya. Rasa itu seakan terlihat jelas di mata manusia-manusia yang saya temui di jalanan. 
Hidup sendiri di sebuah negeri yang jauh dari orang-orang yang saya kenal, menciptakan imajinasi saya tentang arti sendiri. Imajinasi dari buah penciptaan angan saya, akan berbuah manis ketika benar-benar saya tuangkan dalam bentuk visual. Perpaduan antara Gila, Rasa dan Cipta itu pula lah yang mengarahkan untuk menyelesaikan foto project saya "sydney: lonely", project yang saya kerjakan selama lebih dari satu tahun ini. Sebuah upaya saya dalam mewujudkan citra bahwasanya manusia itu memang dipersiapkan untuk menghadapi kesendiriannya. Namun saya harus bertanya kepada diri saya sendiri, apakah yang saya lakukan ini bisa mewujudkan suatu perubahan? Sayapun akan menjawab "Iya, minimal personal project ini telah mengubah diri saya untuk terus maju dan berkembang apapun kata orang nanti..."

Bagi anda yang mempunyai ide gila, monggo segera direalisasikan bagaimanapun caranya. Bagi saya fotografi bukan hanya aktifitas jeprat jepret. Jauh di balik itu terdapat sebuah proses menghargai hidup, menghargai sebuah mimpi, menghargai sejarah. Saya sudah terlampau basah di dunia fotografi, maka dari itu saya tidak akan pernah melepaskan mimpi-mimpi saya yang terkadang gila. Terima kasih untuk bang +Edy Purnomo atas kultwitnya tentang personal project.

Tetap Semangat Salam hangat
2w_^
Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...